Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Memories

Pekan Lara

Begitulah jadinya. Pekan ini aku mempelajari banyak hal. Bahwa sesungguhnya kita harus merasakan kehilangan untuk tahu bagaimana rasanya memiliki. Harus merasakan sedih untuk tahu bahagia. Merasakan pahit untuk tahu manis. Untuk belajar lebih ikhlas mencintai apapun. Belajar bersyukur terhadap apa yang kita dapatkan sekarang.    Pertama. Jumat kemarin adalah hari yang menyakitkan bagiku. Bagaimana tidak, lelayu yang tersebar mengabarkan teman seperjuangan telah tiada. Begitu cepat, batinku. Maka ketika saat itu tiba tiada yang bisa menolak atau berpaling sedikitpun. Aku kembali diingatkan untuk selalu bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan olehNYA. Semoga engkau tenang disisiNYA. Kedua. Tiga teman seperjuangan harus pindah untuk merangkai cita-citanya di kota lain. aku bangga pada mereka, juga sedih karena harus berpisah. Ini adalah jalan yang diridhoiNYA, maka harus kita percayai. Asal tetap bisa berkomunikasi dan bertemu, tak masalah bagiku. Jalan berbeda, t...

Putih Abu-Abuku

Ada sebagian orang menghabiskan waktu luangnya untuk membaca buku, online, menonton film, atau melakukan hal lainnya. Terkadang aku termasuk yang keempat–melakukan hal lainnya–yang aku lakukan adalah melihat foto zaman dulu. Terdengar membosankan atau bahkan kurang kerjaan. Namun bagiku, itu adalah hal yang mengasikan. Sekedar melepas rindu pada kenangan-kenangan masa lalu. Masa lalu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi seperti saat sekarang. Tak peduli berapa lama menghabiskan waktu untuk melihat foto zaman dulu–aku menyukainya. Dari foto-foto lama, kita bisa mengingat kembali, “Ohh iya, aku dulu pernah begini dan begitu.” Setelah itu mengoreksi diri dan kembali tengelam dalam eforia masa lalu. Kata orang, masa yang paling berkesan adalah saat kita memakai seragam putih abu-abu. Setelah kupikir adalah benar adanya. Ini terbukti dari file foto-fotoku yang paling banyak ketika aku memakai seragam putih abu-abu–itu yang tersimpan, kurang tahu berapa banyak foto yang sudah ...

Sulit Menemukannya (Lagi)

Mungkin ada sebagian kecil dari kehidupan kita yang akan sulit kita temukan (lagi). Ketika kita kecil, kita sering jajan didepan sekolah hingga jajanan tersebut (mungkin) menjadi jajanan favorit. Namun sekarang ketika kita datang ke sekolah, kita hanya bisa mengenang betapa nikmatnya jajanan tersebut. Entah itu karena penjualnya tidak berdagang lagi atau tetap ada namun rasanya berbeda sebab bukan penjual lama yang menyajikan. Semakin dewasa kita, maka akan semakin banyak kenangan yang akan dan harus kita ingat. Entah itu sebagai pelajaran ataupun hanya untuk mengetahui apa rasanya rindu. Seperti sekarang ini aku merindukan lingkar pertemananku. Benar kata orang-orang, bahwa seorang akan dipertemukan dengan orang yang sama dengannya. Entah itu tingkah lakunya, hobbinya, atau bahkan visi-misinya. Sebab dengan kesamaan itulah kita tidak akan pernah habis bahan pembicaraan–pun aku merasakannya selama ini. Ketika dulu kita memang sering bertemu, begitu banyak hal yang kita bicarak...

Tak Lekang Oleh Waktu

Cinta yang paling suci di dunia adalah cinta orang tua kepada buah hatinya. Cinta yang paling tulus di dunia adalah cinta orang tua kepada buah hatinya. Cinta yang selalu ada adalah cinta orang tua kepada buah hatinya. Cinta, kata pertama yang diajarkan kepada kita lewat kedua orang tua kita. Darinya kita bisa mengetahui apa sebenarnya cinta, tanpa harus les atau kursus tentang cinta. Kita sudah tahu itu. Orang tua telah mencintai kita tanpa mengetahui bagaimana bentuk rupa kita. Mereka mecintai kita sebelum kita ada! Rela melakukan apapun untuk membuat buah hatinya bahagia. Perjuangan mereka tetap abadi dan tak bisa terhapuskan oleh apapun. Sekalipun sang buah hati sering menyayat hati kecilnya, namun cinta itu tetap ada. Sekalipun terucap kata “A B C D” dari sang buah hati, namun selalu sabar menghadapi kita–buah hatinya yang terkadang lupa diri. Hari ini, 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu! Sudah berapa sering mengucapkan, “Selamat Hari Ibu, mak.” –Terlampau serin...

Hadiah Untukku

Aku pernah berkata, "Kamu tak usah memberiku hadiah yang mahal dan keren. Kamu cukup membuatkan puisi untukku. Itu jauh lebih keren! Sebab setidaknya aku pernah hidup di karyamu. Hehe." Kencang sang waktu berlari tak mampu ku kendalikan dan tak mampu aku perlambat lajunya dentang lonceng malam ini tepat kau berusia dewasa mengiringi usia kisah kita Tidaklah berupa rangkaian bunga Ataupun boneka beruang seperti kepunyaan Alice Tidak pula sebuah puisi yang ditulis dengan pena penuh puja dan puji Aku tak mampu memberi semua itu  Dan Aku berdoa agar Tuhan senantiasa mengutus malaikatnya Untuk menjaga Mu di setiap engkau melangkah  Karena aku sadari aku tak bisa menjaga Mu seutuhnya meskipun aku berusaha untuk seperti itu Doa dan Harap ini akan terus saya ucap Bukan hanya saat ini . . Garwa ku. Maafkan Aku  Jika Aku Tak mampu menjadi teman yang semestinya menemanimu malam ini  Maka, tetaplah berteman dengan bintang yang berny...

Ohh Desember

Tak ada yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Namun, setiap bulan pasti mempunyai cerita masing-masing yang meninggalkan kesan. Setelah November kemarin menumpahkan air dan hembusan angin yang begitu kencang, hingga meninggalkan sayatan kecil. Kini Desember memberikan sedikit mentarinya untuk merasakan begitu hangatnya ia. Sebab Desember selalu meninggalkan banyak harapan dan semoga. Sampai-sampai kadang aku terbuai dibuatnya, tapi terlepas dari semua itu. Aku ingin berterimakasih kepada Desember karena kau selalu kunanti dan kurindukan. Berkat Desember, aku selalu belajar bagaimana sepantasnya aku hidup dan telah melakukan apa untuk hidupku juga orang disekitarku. Hari ini, aku memilih sendiri dan menjauhkan diri dari dunia luar. Bukan karena aku tak mau membuka diri dan berkata, “Terimakasih doanya.” Tapi aku memilih untuk mengoreksi diri. Bertanya kepada diri sendiri, “Kau ini sebenarnya siapa? Apakah kamu dibutuhkan? Telah melakukan apa?” dan banyak pertanyaan yang muncul ...